Bangganya Menggunakan Ontel
Perjalanan berawal dari Cicadas, karena di Cicadaslah Paguyuban sepeda ontel yang hendak kami pakai untuk mengelilingi Kota Bandung. Semua rombongan sepeda ontel menyusuri jalan raya Cicadas yang sangat padat dengan angkutan umum, sepeda motor, dan mobil. Semua anggota rombongan selalu mengikuti intruksi dari pimpinan rombongan . kalau pimpinan mengangkat tangan dan menunjukkan dua jarinya, maka itu berarti rombongan harus berjalan dua baris. Tetapi, kalau pimpinan menunjukkan satu jarinya, itu berarti rombongan berjalan satu baris.
Rombongan berhenti di Jl. Braga tepatnya di depan gedung Majestik. Rombongan diberitahu tentang sejarah gedung Majestic tersebut. Gedung yang dulu bernama Concordia Bioscoop (1924) yang digunakan sebagai bioskop. Bioskop ini diperuntukan khusus bagi kaum elit Belanda yang status sosialnya tinggi, warga Pribumi dan Belanda kelas bawah biasanya tidak diperbolehkan masuk.
Setelah puas memandangi gedung Majestic tersebut, kemudian rombongan melanjutkan perjalanan menuju rumah makan ala belanda.
Semua rombongan termasuk memarkirkan sepeda ontelnya masing-masing disisi rumah makan ala belanda tersebut. Salah satu rombongan memesan kue kering dan memesan teh manis. kue-kue kering yang berwarna coklat dan kekuning-kuningan tersebut sudah sering dilihat setiap hari raya idul fitri, dan teh manisnya pun hampir sama dengan the manis yang sering diminum sama setiap anggota rombongan. Tetapi yang membedakannya adalah suasananya, kalau disana kita bisa merasakan suasana belandanya. Bahkan, biasanya membayarnya harus menggunakan golden belanda, tetapi berhubungan mesin kasirnya lagi rusak, ketika rombongan ontel kesana sehingga membayar dengan rupiah.
Setelah itu rombongan melanjutkan perjalanan menuju gedung Landmark. Dimana, di gedung ini biasanya diadakan pameran-pameran, misalnya pameran lukisan, pameran alat-alat elektronik dan sebagainya.
Disetiap perjalanan. Setiap orang selalu memandang rombongan dengan tatapan ramah, semua orang tersenyum pada rombongan. Namun, salah satu rombongan yang bernama Hari, ketika mau menyebrang jalan raya, tiba-tiba sebuah mobil lewat dan berhenti tiba-tiba. Kemudian memarahi hari, “ Zaman belanda juga sepeda ontel gak boleh lewat ama belanda. “ celoteh sopir mobil tersebut dengan ketus.
Rombongan yang melihat kejadian tersebut kecewa dengan sikap orang tersebut. Sungguh warga yang tidak bisa menghargai sejarah kotanya sendiri dan tidak menghargai orang lain.
Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan ke rumah makan ala Hindia Belanda. Nama rumah makan tersebut adalah Bandoeng Melk Centrale (BMC). Di BMC, rombongan disambut baik oleh direktur BMC sendiri. Begitu rombongan datang, rombongan langsung disuruh masuk ke ruang VIP rumah makan tersebut. Sungguh sangat tersanjung bisa dilayani dengan begitu ramah. Di ruangan, pak direktur menjelaskan tentang sejarah BMC itu sendiri. BMC berdiri pada tahun 1925. Dulunya adalah sebuah perusahaan pengelola susu Pasteurusasi pertama di Hindia Belanda. Pertama kali sapi didatangkan dari Friensland.
Rombongan makan makanan khas sunda yaitu nasi liwet dengan ayam goreng dan tempe. Satu orangnya dikasih nasi dengan porsi yang cukup banyak. Berhubung rombongan kecapekan dan kelaparan, maka tidak heran kalalu semua menu tersebut habis dimakan. Sungguh manusia yang kelaparan.
Setelah makan, rombongan diberi kesempatan foto bareng dengan pak direktur. Maka semua rombongan berfoto dengan gaya masing-masing.
Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Gedung Sate. Semua rombongan diberi izin untuk memasuki gedung Gubernur Jawa Barat tersebut hingga naik ke puncaknya. Melihat pemandangan dari lantai yang paling atas, sunggguhlah indah sekaligus dapat mencuci mata setiap anggota rombongan dari hiruk pikuk Kota Bandung. Dilantai atas disediakan teropong sehingga kita bisa melihat Monumen Pancasila yang berada di sekitar Unpad Dago tersebut.
Rombongan mengakhiri perjalanan di Gedung Sate. Dan setelah itu pulang.
“Merdeka”. Teriak salah satu anggota rombongan yang bernama Rifki kepada pejalan kaki. Pejalan kaki menyambutnya dengan senyuman.
Setiap kali melihat orang dipinggir jalan, Rifki selalu mengucapkan kata merdeka dengan tidak bosan-bosannya.
Akhirnya rombongan sampai di tempat, dimana, tempat itu adalah tempat rombongan mengawali perjalanan yaitu di Cicadas.
Sungguh bangga bisa mengendarai ontel keliling Kota Bandung. Pengalaman yang sangat berharga dan tidak mungkin terlupakan.
Senin, 21 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar