Aslinya mana..? Demikian pertanyaan yang selalu terlontar ketika aku berkenalan dengan seseorang, tentunya pertanyaan standar itu keluar dari mulut orang yang berjauhan dengan kota kediamanku.
Kadangkala aku bingung untuk menjawabnya, kadang juga tidak. Aku bingung karena sebenarnya aku asli mana? Kalau aku katakan asli Jawa, sementara aku dilahirkan jauh dari tanah leluhurku di Pulau Jawa sana. Orang tuaku beserta beberapa saudaranya juga dilahirkan di tanah Batak, bahkan mereka juga tidak pernah melihat sama sekali tanah leluhurnya sampai mereka meninggal dunia..
Pertanyaan aslinya mana? Dan asalnya mana? Kadang aku jawab asli Jawa, kadang juga asli Siantar.
Walau pada akhirnya mereka tidak yakin kalau aku katakan aku asalnya dari Jawa, mendengar dialek yang aku gunakan ketika berkata-kata demikian juga dengan adat istiadat yang dipengaruhi oleh “kampungku” Tano Batak.
Sebagai seorang keturunan Jawa yang dilahirkan dan dibesarkan di Pematang Siantar (Sumatera Utara) aku merasa aku ini adalah orang Siantar meskipun aku lahir dari keturunan Jawa, tapi aku juga tidak dapat menafikan bahwa aku ini keturunan Jawa.
Menurut sejarah yang pernah aku dengar dari orang tua, dulunya orang Jawa yang ada di Sumatera berasal dari pulau Jawa yang di “ekstradisi” oleh Belanda dan dipekerjakan di perkebunan-perkebunan yang ada di Sumatera sebagai kuli kontrak. Tragis memang...
Hingga pada saat ini semua keturunan Jawa yang ada di Sumatera termasuk di kota kelahiranku merasa seperti saudara karena merasa“tunggal sak kapal” karena pada waktu itu leluhur kami diangkut bersamaan dengan kapal-kapal laut sampai ke daerah-daerah “pembuangan” oleh Belanda di sumatera.
Saat ini generasi Jawa yang ada di Sumatera sangat berkembang pesat populasinya seiring juga dengan perkembangan kualitasnya, dimulai dari karyawan perkebunan hingga pejabat penting di pemerintahan, dari politisi sampai pengusaha sukses. Namun demikian yang tidak pernah hilang dari darah orang Jawa di Sumatera yakni “toto kromo”, “unggah-ungguh” dan “tepo seliro” masih kental sekali.
Berdasar atas kerinduan akan tanah leluhurnya maka orang Jawa di Sumatera kini saling bahu membahu untuk dapat mempersatukan keturunan Jawa. Caranya antara lain dengan membentuk organisasi-organisasi atau paguyuban untuk tempat berkumpulnya keturunan Jawa di Sumatera. Salah satu nya adalah Paguyuban “Pujakesuma” yakni Putra Jawa Kelahiran Sumatera.
Akhirnya kini aku memiliki jawaban yang menurutku lumayan memuaskan jika lain kali aku ditanya mengenai asal atau keturunanku, jawabanku adalah “PUJAKESUMA” (Putera Jawa Kelahiran Sumatera), jawaban yang menurutku simpel.
Jumat, 18 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar